Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa (PKPP) menekankan aspek pemanfaatan hasil litbangyasa dalam rangka mendukung perwujudan sistem inovasi daerah (SIDa), sistem inovasi nasional (SINas), pelaksanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)... Baca Selengkapnya>>

Berdasarkan data Indikator Iptek, saat ini terdapat sekitar 7.800 orang peneliti dan perekayasa yang berada di bawah Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kementerian  (LPK) dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK). Sejumlah 1600 orang di Kementerian Pertanian, 1100 orang di bawah LIPI, 1000 orang di BPPT, 350 orang di Kementerian Kesehatan, dan sisanya tersebar di beberapa kementerian  lainnya. Hal ini menunjukkan tingginya potensi peneliti dan perekayasa di samping 150.000 dosen yang ada di perguruan tinggi di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Potensi ini harus diberdayakan untuk menjawab tantangan kebutuhan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang menunjang pembangunan melalui kegiatan pemanfaatan hasil litbang yang berkesinambungan.

Berdasarkan tugas pokok dan fungsinya, Kementerian Riset dan Teknologi bertanggungjawab atas koordinasi pelaksanaan kegiatan penelitian, pengembangan dan perekayasaan di lingkungan Lembaga Litbang Kementerian/Non Kementerian  baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitasnya. Saat ini, para peneliti dan perekayasa LPK dan LPNK perlu didorong meningkatkan derajat pemanfaatan atas kegiatan penelitian dan perekayasaan yang telah dilaksanakannya. Peningkatan pemanfaatan ini menjadi prioritas utama untuk mewujudkan peran dan kontribusi sektor Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang terterapkan dalam mendukung perekonomian masyarakat dan daerah.

Guna meningkatkan daya saing bangsa dan meningkatkan perekonomian masyarakat melalui pemanfaatan hasil litbang, dukungan para peneliti dan perekayasa sangat diharapkan. Oleh karena itu, hasil penelitian, pengembangan dan rekayasa yang selama ini dilakukan oleh para peneliti dan perekayasa perlu ditindaklanjuti dengan mengembangkan upaya pemanfaatannya di masyarakat dan daerah. 

Pemberian dukungan insentif peningkatan kemampuan peneliti dan perekayasa kepada para peneliti dan perekayasa merupakan program strategis yang mempunyai fungsi utama, yaitu: (1) meningkatkan pemanfaatan hasil litbangyasa yang selama ini dihasilkan dari proses penelitian, pengembangan dan rekayasa,  (2) meningkatkan pemenuhan kebutuhan teknologi  yang dibutuhkan masyarakat dan daerah, dan (3) meningkatkan dukungan pengembangan SIDa, SINAS dan pelaksanaan MP3EI yang terbagi ke dalam 6 (enam) koridor ekonomi dalam rangka meningkatkan perekonomian dan daya saing bangsa. Guna mewujudkan langkah tersebut, maka  dalam DIPA Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2012 telah dialokasikan dana insentif bagi para peneliti dan perekayasa di lingkungan LPK dan LPNK yang tersusun dalam Insentif Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa (PKPP).

Tujuan Insentif

 Pembangunan sistem inovasi daerah (SIDa), sistem inovasi nasional dan pelaksanaan pembangunan 6 (enam) koridor ekonomi menjadi landasan pijak bagi pelaksanaan insentif ini. Guna pencapaian itu, maka Insentif Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa ini bertujuan untuk :

  1. Meningkatkan pemanfaatan hasil litbangyasa yang terterapkan sebagai kontribusi Iptek terhadap perekonomian masyarakat dan daerah
  2. Mendorong peningkatan produktivitas hasil litbang melalui sinergi pemenuhan kebutuhan teknologi di masyarakat dan daerah.
  3. Meningkatkan komersialisasi produk inovatif yang ditandai dengan tumbuhkembangnya industri kecil baru
  4. Meningkatkan kinerja LPK dan LPNK sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing yang mengedepankan upaya pemanfaatan hasil litbangyasa
  5. Memperkuat upaya peningkatan daya saing ekonomi daerah melalui pemanfaatan teknologi.  


Orientasi Insentif

Insentif Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa ini menekankan pada aspek pemanfaatan hasil litbangyasa dalam rangka mendukung perwujudan sistem inovasi daerah (SIDa), sistem inovasi nasional (SINas) dan pelaksanaan MP3EI. Dalam pelaksanaanya, beberapa orientasi insentif diarahkan pada :

  1. Pemanfaatan hasil penelitian, pengembangan dan rekayasa yang berbasis pada sumberdaya daerah dan nasional.
  2. Penekanan pada perkuatan kesesuaian dan keterpaduan antara kebutuhan teknologi - permasalahan pengguna teknologi dengan pasokan hasil produk litbangyasa baik yang bersifat komponen peralatan teknologi (hard technology) maupun pengembangan rekayasa sosial (social engineering) pendukung penerapan teknologi terkait.
  3. Perkuatan interaksi sinergi antar aktor inovasi baik dalam kapasitas di kelembagaan litbangyasa dengan kelembagaan pendukung intermediasi dan pendayagunaan Iptek di daerah
  4. Peningkatan kapasitas absorbsi dan adopsi masyarakat dan daerah terhadap perkembangan teknologi sesuai kebutuhannya, sehingga mendorong bagi tumbuhkembangnya inovasi yang implementatif
  5. Peningkatan produktivitas produk hasil litbangyasa yang didukung dengan menguatnya tatanan komersialisasi sehingga mendorong tumbuhnya industri kecil baru yang inovatif produktif.

 

Jenis Paket Insentif

Sehubungan dengan orientasi insentif yang diarahkan di atas, maka insentif ini terutama ditujukan untuk mempercepat tingkat pemanfaatan hasil litbang di samping meningkatkan kesesuaian untuk menjawab kebutuhan teknologi daerah. Di samping itu, insentif ini pula memperkuat kapasitas kelembagaan litbang agar memenuhi tuntutan tugas pokok dan fungsi yang diembannya.

Insentif ini terwujud ke dalam Paket Insentif yang mencakup  :

  1. Paket Insentif pemanfaatan hasil litbangyasa berupa dukungan prototype peralatan teknologi (hard technology) yang sesuai dengan kebutuhan pengelolaan sumber daya daerah dalam kerangka pengembangan SIDa, SINAS, dan Koridor Ekonomi MP3EI.
  2. Paket Insentif pemanfaatan metode, instrumentasi, tools, penerapan strategi – rekomendasi kebijakan dalam mendukung tumbuhnya iklim inovasi (social engineering) di daerah yang berwujud ke dalam kegiatan penyiapan kapasitas masyarakat, pelatihan dukungan operasionalisasi peralatan, sosialisasi  metode baru, dan sosialisasi penerapan rekomendasi kebijakan.

 

Dalam mendukung kesesuaian pemanfaatan hasil litbang yang terterapkan di masyarakat pengguna, maka dalam panduan ini disampaikan pula Peta Kebutuhan Teknologi di Daerah baik yang bersifat hard science  maupun social engineering.

 

Pendekatan Insentif

Guna mencapai tujuan yang diharapkan, maka pelaksanaan insentif ini menekankan pendekatan yang berfokus pada :

  1. Interaksi antar aktor inovasi yang mengedepankan pembelajaran (learning) baik di kalangan penyedia teknologi maupun pengguna teknologi.
  2. Pengembangan semangat bersama aktor inovasi dalam meningkatkan kontribusi produk inovasi yang dihasilkan terhadap langkah meningkatkan perekonomian daerah.
  3. Peningkatan produktivitas menuju komersialisasi produk dan layanan teknologi (metode, strategi, instrumen) yang terterapkan di masyarakat dan daerah.

 

Fokus Prioritas Insentif

Beberapa arah prioritas yang perlu menjadi perhatian fokus dalam pelaksanaan Insentif Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa ini  antara lain :

a.   Fokus Bidang Prioritas Pembangunan Iptek 2009-2014

Fokus ini meliputi tujuh bidang fokus dan dua faktor pendukung sebagaimana diamanatkan pada RPJM Nasional 2009-2014 yang meliputi :

1)   Ketahanan Pangan

2)   Energi

3)   Teknologi dan Manajemen Transportasi

4)   Teknologi Informasi dan Komunikasi

5)   Teknologi Pertahanan dan Keamanan

6)   Teknologi Kesehatan dan Obat

7)   Material maju

8)   Sains Dasar, dan

9)   Sosial Kemanusiaan

 

b.   Dukungan bagi Penguatan SINas

Sebagaimana dalam dokumen SINas, dijelaskan bahwa serangkaian kegiatan  pembangunan  Iptek  ditujukan  untuk   mendukung  bagi penguatan SINas, termasuk juga pelaksanaan Insentif Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa ini yang merupakan salah satu instrumen SINas. Guna mendukung itu, insentif ini juga menekankan pada :

1)   Pembangunan Inovasi sebagai Suatu Sistem

2)   Revitalisasi Lembaga Pengembang Teknologi

3)   Peningkatan Kapasitas Adopsi Lembaga Pengguna Teknologi

4)   Peningkatan Peran Lembaga Intermediasi

5)   Pengembangan Science and Technology Park

6)   Pengembangan Pusat Unggulan Inovasi

7)   Penguatan Pembentukan Konsorsium-Kolaborasi Inovasi

8)   Penguatan Langkah Revitalisasi Dewan Riset Nasional

9)   Peningkatan Sinkronisasi Regulasi Inovasi, dan

10) Pengelolaan berbasis Sumberdaya dan Peningkatan Pemenuhan

Kebutuhan Nasional

c.  Penguatan Dukungan bagi Pelaksanaan MP3EI

Percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia menetapkan sejumlah program utama dan kegiatan ekonomi utama   yang   menjadi   fokus   pengembangan   strategi   dan kebijakan.  Fokus  dari  pengembangan  MP3EI  ini  diletakkan pada 8 (delapan) program utama, yaitu :

1)  Pertanian,

2)  Pertambangan,

3)  Energi,

4)  Industri,

5)  Kelautan,

6)  Pariwisata,

7)  Telematika, serta

8)  Pengembangan Kawasan Strategis.

Kedelapan  program  utama  tersebut  terdiri  dari  22  kegiatan ekonomi utama dengan distribusi pada enam Koridor Ekonomi Indonesia (KEI) : Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, dan Papua-Maluku.

 

Penerima Insentif

Penerima Insentif adalah para pejabat fungsional peneliti dan perekayasa di Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) dan Lembaga Pemerintah Kementerian (LPK) yang terutama masih aktif sebagai peneliti atau perekayasa.

 

Mekanisme Pelaksanaan Insentif

Usulan proposal Insentif ini  berdasar mekanisme usulan yang dilakukan oleh lembaga litbang LPNK dan LPK sendiri sesuai kriteria yang ditetapkan bersama. Kriteria tersebut antara lain :

Kesesuaian topik proposal insentif dengan kebutuhan teknologi dan pengembangan potensi unggulan daerah.

  1. Pemanfaatan hasil litbangyasa yang sifatnya proven technology dan modul-metode yang siap diimplementasikan, dan
  2. Lingkup pemanfaatan hasil litbangyasa yang mendukung tupoksi lembaga.

Usulan proposal yang diterima Kementerian Riset dan Teknologi selanjutnya disesuaikan dengan Peta Kebutuhan Teknologi Daerah (sebagaimana dalam Lampiran 1 Dokumen Panduan ini). Pemetaan usulan proposal ini merupakan proses penyesuaian dengan kebutuhan yang ada, sehingga tercapai kriteria pemanfaatan hasil litbangyasa dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan daerah.

Proses pemetaan kesesuaian ini akan melibatkan Tim Implementasi Insentif PKPP-Kementerian Riset dan Teknologi bersama-sama dengan wakil dari masing-masing Kementerian dan Lembaga pengusul.

Hasil pemetaan tersebut kemudian ditetapkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi  sebagai Penerima Insentif yang akan menandatangani Kontrak Kerja.   Dalam pelaksanaannya, akan dilakukan monitoring dan  evaluasi untuk melihat capaian kinerja masing-masing Paket Insentif untuk selanjutnya dirumuskan  capaian keseluruhan pelaksanaan  insentif pada masing-masing Koridor Ekonomi (KE) sebagai upaya kontribusi Iptek terhadap pembangunan perekonomian nasional

 

Tolak Ukur Keberhasilan

Keberhasilan pelaksanaan  Insentif  Peningkatan  Kemampuan Peneliti dan Perekayasa ini didasarkan atas pencapaian kriteria tolok ukur sebagai berikut :

Meningkatnya pemanfaatan hasil litbang  yang terterapkan  sesuai kebutuhan teknologi di masyarakat dan daerah;

  1. Menguatnya interaksi sinergi antar actor inovasi baik dalam kapasitas di kelembagaan litbangyasa dengan kelembagaan pendukung intermediasi dan pendayagunaan Iptek di daerah;
  2. Meningkatnya kapasitas absorbs dan adopsi masyarakat  dan daerah terhadap perkembangan teknologi sesuai kebutuhannya, sehingga mendorong bagi tumbuhkembangnya inovasi yang implementatif;
  3. Meningkatnya produktivitas produk hasil litbangyasa yang  didukung dengan menguatnya tatanan komersialisasi sehingga mendorong tumbuhnya industri kecil baru yang inovatif produktif.
  4. Meningkatnya iklim inovasi yang berujung pada penciptaan  nilai ekonomi produk hasil litbangyasa, dan
  5. Menguatnya dukungan bagi upaya peningkatan daya saing perekonomian daerah sejalan dengan upaya pengembagan MP3EI.